Pencarian






Artikel Terkini


PELARANGAN TUKANG GIGI DEMI KESEHATAN MASYARAKAT

Minggu, 08 April 2012, 20:33 | 0 Komentar

SEMARANG, suaramerdeka.com – 24 Maret 2012. Praktik tukang gigi yang melebihi kewenangan membuat Persatuan Dokter…
Lanjutkan membaca »

Tukang Gigi dan Risiko Infeksi

Rabu, 27 Juli 2011, 12:42 | 3 Komentar

Artikel mengenai bahaya tukang gigi pada kompas.com
Lanjutkan membaca »

REGRISTRASI ULANG DOKTER TERKENDALA

Rabu, 27 Juli 2011, 12:18 | 0 Komentar

Kutipan lengkap pemberitaan Harian Kompas 22 Juli 2011
Lanjutkan membaca »

SAMBUTAN KETUA UMUM PADA PELANTIKAN PB PDGI 2011-2014

Rabu, 27 Juli 2011, 12:12 | 0 Komentar

SAMBUTAN KETUA UMUM PADA PELANTIKAN PB PDGI 2011-2014 di Jakarta pada 23 Juli 2011.
Lanjutkan membaca »
Artikel Lainnya »

Jurnal PDGI

Berlangganan JURNAL PDGI Via Email

Nama Email


drg teladan foto.jpg

DOKTER GIGI PERAIH SANG TELADAN KESEHATAN

Kamis, 21 Juli 2011, 09:10

Terdapat 2 orang dokter gigi dari 6 peraih penghargaan Sang Teladan Kesehatan. Para dokter gigi tersebut adalah Anto Bagus yang selama ini mendedikasikan diri untuk menangani bibir sumbing di Mojokerto, dan Salvi Rani dokter gigi yang bekecimpung dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan narkoba di Bukittinggi. Penerima anugrah lainnya adalah Eulis Rosmiati yang bidan penggerak swadana kesehatan di Sukabumi, Michael Leksodimulyo yang dokter penggagas klinik keliling di Surabaya, Widarti yang melakukan pemberdaya kader kesehatan di Lumajang, dan Tiara Savitri pendiri Yayasan Lupus Indonesia. Para teladan kesehatan tersebut merupakan tenaga medis maupun non medis yang dianggap telah melakukan pengabdian yang besar dan tanpa pamrih untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di daerah.

 Dalam penganugerahan penghargaan ini  pada 15 Juli 2011 di Jakarta, Michael Leksodimulyo dinobatkan sebagai peraih Sang Teladan favorit pilihan masyarakat, sementara Eulis Rosmiati sebagai Sang Teladan pilihan juri. Pada kesempatan tersebut juga diberikan penghargaan khusus kepada Non Raung, penyedia layanan kesehatan gratis yang konsisten memberikan pengobatan gratis bagi masyarakat dhuafa melalui Yayasan Obor Berkat Indonesia, dan Aisah Dahlan, dokter yang selama ini bergiat dalam penanganan narkoba dan menciptakan lapangan kerja bagi mantan pecandu narkoba. Keenam Sang Teladan Kesehatan meraih Rp 50 juta,  sedangkan untuk penerima penghargaan khusus masing-masing mendapat Rp 25 juta.

Sulastri, Product Manager Decolgen yang menyelenggarakan program pemberian penghargaan tersebut, menyampaikan bahwa para peraih penghargaan merupakan sosok yang mengabdi tanpa pamrih hingga layak diberi penghargaan. Diharapkan profilnya dapat menjadi inspirasi yang menggugah dan ditiru banyak orang. Para pelaku kesehatan itu tidak banyak terekspos oleh publik, namun pengabdiannya nyata memberikan kontribusi bagi peningkatan kesehatan masyarakat yang dilayaninya. Dengan adanya penghargaan tersebut diharapkan masyarakat dapat lebih menghargai mereka yang berdedikasi di dunia kesehatan.

 Para penerima penghargaan Sang Teladan Kesehatan dipilih dari antara 857 kandidat yang diajukan masyarakat. Proses pemilihan dilakukan sejak April 2011 hingga Juli 2011. Dewan juri terdiri dari sosiolog Imam Prasodjo, pakar kesehatan Fahmi Idris, praktisi kesehatan Joserizal Jurnalis, presenter  M. Farhan, serta jurnalis Najwa Shihab. Pemberian penghargaan Sang Teladan Kesehatan berdasarkan kriteria dengan akronim CORES  yaitu commitment, obstacleroleeffect, suistanable. Commitment yaitu berdedikasi penuh di bidangnya, khususnya kesehatan; Obstacle, mengatasi tantangan di bidangnya; Role, berperan dalam kegiatannya; Effect, membawa dampak khususnya di bidang kesehatan; dan Suistanable, kegiatannya berkesinambungan.

 ANTO BAGUS DENGAN INOVASI OBTURATOR BAUT

Anto Bagus adalah dokter gigi yang dengan penuh kesederhanaan sehari-hari mengabdikan dirinya di Dinas Kesehatan Mojokerto. Terketuk oleh peristiwa yang dialami sahabatnya yang mempunyai putra yang berbibir sumbing, Anto tergerak untuk mencari dan membantu para pasien penderita bibir sumbing.

Anto semula tergerak untuk membantu para pasien bibir sumbing yang kurang mampu, dan dengan inisiatif pribadinya, ia mencarikan sumber pendanaan, hingga akhirnya bekerja sama dengan Yayasan Cleft Care di Surabaya. Tidak mudah membujuk anak-anak atau penderita bibir sumbing untuk bersedia dioperasi berulang kali, karena operasi adalah suatu pengalaman yang traumatis, sehingga sering kali mereka membiarkan lubang di langit-langit tetap terbuka.

Berawal dari permasalahan yang timbul dari operasi bibir sumbing, dan keadaan penderita bibir sumbing di daerahnya yang sering kali berlatar belakang keluarga tidak mampu, Anto mendapatkan ide menciptakan alat obturator. Anto mempergunakan waktu luangnya untuk memodifikasi obturator yang sudah ada, sehingga terciptalah obturator modifikasinya yang mempergunakan baut pada alat tersebut, sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih panjang, hingga 2 tahun, karena dapat secara fleksibel mengikuti pertumbuhan geligi anak. Biaya untuk obturator yang dimodifikasi ini pun tidak mahal, hanya berkisar 500 ribu rupiah, selain keuntungan alat tersebut dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan obturator permanen.

Dengan inisiatif pribadinya, Anto sering kali bepergian ke pelosok daerahnya untuk mencari pasien penderita bibir sumbing yang belum mendapatkan pengobatan. Anto menawarkan alat obturator buatannya secara cuma-cuma, terutama bagi mereka dari keluarga yang tidak mampu.

Kegiatan mulia ini, rupanya sering kali ditanggapi dengan cemooh oleh masyarakat sekelilingnya, yang seakan meragukan usaha Anto. Anto pun tidak selalu mudah diterima oleh keluarga penderita bibir sumbing. Kebiasaan untuk menutupi kondisi yang diderita keluarganya, serta kecurigaan dari keluarga, menyebabkan Anto harus sabar melakukan pendekatan kepada keluarga pasien. Anto mempunyai kerinduan, alat yang dimodifikasinya ini dapat dipatenkan, dan disebarluaskan penggunaannya kepada banyak orang, sehingga lebih banyak lagi penderita bibir sumbing dan celah langit-langit mulut, terutama yang berasal dari keluarga tidak mampu, yang mendapatkan manfaat dari alat yang diciptakannya ini.

 SALVI RANI PEGIAT KESEHATAN MASYARAKAT DAERAH

Salvi Raini, adalah puteri asli kelahiran Bukittinggi, yang menyelesaikan pendidikan dokter gigi di Bandung. Selepas lulus dokter gigi, ia mengajukan permohonan agar dapat ditugaskan di daerah kelahirannya. Hingga saat ini, Salvi telah 15 tahun mengabdi di daerah asalnya, dan 9 tahun terakhir menjadi Kepala Puskesmas Kecamatan Biaro, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

 Salvi adalah sosok kepala puskemas yang penuh inisiatif yang mempunyai ketekunan dan pemikiran-pemikiran yang inovatif sebagai terobosan perbaikan kesehatan di daerahnya. Di tahun 2005, digerakkan kenyataan permasalahan narkoba di daerahnya yang belum mempunyai wadah yang memungkinkan untuk pengobatan dan rehabilitasi, ia mengajukan proposal sehingga mendapatkan kesempatan studi banding bersama beberapa orang timnya ke BNN Jakarta. 

Saat memulai programnya, Salvi menghadapi tantangan budaya dan adat yang cukup ketat di daerah kerjanya, yakni permasalahan narkoba masih dianggap suatu hal tabu yang tidak pantas diungkapkan ke publik. Sehingga sering kali warga yang keluarganya terjerumus ke dalam permasalahan narkoba, tidak mengetahui kemana harus mencari bantuan pemulihannya. Dengan menutupinya, justru membuka risiko penularan penyakit akibat penggunaan narkoba, seperti AIDS.

Salvi mengambil langkah mendobrak kebiasaan ini dengan melakukan pendekatan dan penyuluhan kepada warga, sehingga para korban narkoba tidak segan dan takut untuk mendapatkan pengobatan dan rehabilitasi. Salvi juga melakukan pendekatan ke pihak kepolisian, sehingga pecandu narkoba tidak mempunyai rasa takut ditahan bila berkonsultasi di Puskesmas Biaro. 

Sebagai bagian dari komitmen melawan penyalahgunaan narkoba, Salvi berinisiatif mendirikan Klinik Sehati di Puskemas Biaro yang menyediakan konsultasi bagi remaja dengan permasalahan umum di kalangan remaja seperti masalah reproduksi dan juga konsultasi narkoba. Seorang tenaga tetap psikolog juga ditempatkan di Puskesmas Biaro untuk memberikan layanan konseling. Konsultasi di Klinik Sehati hanya memungut biaya yang sangat murah, yaitu Rp 3,500,- setiap kali konseling.

Pelayanan di bidang narkoba ini tidak hanya berlangsung bagi masyarakat di Agam, tetapi juga dilakukan Salvi bersama stafnya saat melakukan pengobatan di Lapas IIA, Bukittinggi, yang termasuk dalam wilayah kerja Puskesmas Biaro. Salvi melihat, ternyata 60-70% tahanan di Lapas IIA Bukittinggi mempunyai permasalahan dengan narkoba. Karena itu Salvi tergerak memberikan konsultasi rutin serta bantuan pengobatan bagi narapidana yang menderita HIV/ AIDS.

Salvi juga berinisiatif bekerja sama dengan Kesbanglinmas Kabupaten Agam untuk memberdayakan para pemuda yang mempunyai latar belakang sebagai bekas pecandu narkoba, sehingga mereka dapat menjadi tenaga penjangkau untuk memantau keberadaan pemakai narkoba di wilayahnya masing-masing. 

Inovasi Salvi, tidak hanya terhenti pada pemberatasan narkoba. Di tahun 2008, dengan mengandalkan dana sekitar Rp 3 juta, Salvi berinisiatif mendirikan Radio Sehati di salah satu ruangan mungil di Puskesmas Biaro untuk membagikan pengetahuan bagi masyarakat tentang perilaku hidup sehat dan memberikan konsultasi kesehatan.

Radio Sehati yang dipancarkan pada gelombang 101.1 FM berhasil menjangkau sekitar 10 kecamatan di sekitarnya. Kadang kala Radio Sehati bekerja sama untuk melakukan relay melalui Radio Agro 107.7 FM sehingga memperluas wilayah siaran menjadi 22 kecamatan.

Radio hasil inisiatif Salvi ini sering kali mendatangkan pembicara dari seluruh Puskesmas di wilayah Kabupaten Agam, dan bahkan telah menerima kunjungan dari Tim Kesehatan Wapres, Bapak Bupati Agam, Camat Biaro, dan juga para petugas dari Dinas Kesehatan Sumatera Barat.

Salvi, adalah figur putra daerah yang tidak berhenti menyumbangkan pemikiran baru bagi daerahnya. Untuk mendekatkan dengan para remaja dan generasi muda, Salvi menciptakan Program Kesehatan Peduli Remaja yang sering kali melakukan survei perilaku generasi muda di bidang reproduksi dan narkoba.

Tidak berhenti di situ, Puskesmas Biaro juga membina kerja sama dengan pihak sekolah dan guru BP dalam memberikan penyuluhan sebagai bagian dari Program Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE) yang berhasil menjadi salah satu proyek percontohan di Sumatera Barat. Kerja sama juga meluas hingga ke beberapa pesantren dan menjadi bagian dari program Poskestren (Pos Kesehatan Pesantren) yang memberikan pelatihan kader santri siaga di pondok pesantren. 

Sedemikan banyak inovasinya telah berhasil membawa Salvi berkali-kali terpilih menjadi dokter teladan baik di tingkat kabupaten, propinsi, hingga ke tingkat nasional. Terlebih dari itu, Salvi adalah sosok tenaga kesehatan dengan pengabdian yang tuntas, yang tidak pernah lelah memberikan pemikiran baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya, bagi daerah kelahirannya.

 (sangteladan.com/okezone.com/pj)


Telah dilihat: 641 | Apakah anda suka dengan berita ini?: Suka (6)| Tidak Suka (0)

Komentar

... belum ada komentar

Tulis Komentar

« Masukkan teks yang ditampilkan di dalam kotak (tidak case sensitive)